'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Syiar
Home » Syiar » DAKWAH ROMADHAN di saat COVID-19 » KHARAKTERISTIK AJARAN ISLAM
KHARAKTERISTIK AJARAN ISLAM
28 April 2020 10:15 WIB | dibaca 279
oleh: lppa kota semarang
KAJIAN MUHAMMADIYAH  BANYUMANIK ON LINE
 
Oleh : Dr.H.Zuhad Masduki.MA
 
Tgl : 4 Ramadhan 1441/ 27 April 2020
 
 
Dalam tulisan para pakar agama islam dijelaskan bahwa agama islam memiliki sekian banyak kharakteristik
 
1. Kharakteristik Robaniyah
 
Ajaran islam itu bersumber dari Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW kemudian disampaikan kepada umatnya. Ketetapan-ketetapan yang ada dalam agama islam itu semua dilakukan dan ditetapkan oleh Allah SWT. 
 
Dalam hal ini Rasulullah SAW berperan dan berfungsi sebagai :
- Mubaligh, menyampaikan ajaran itu kepada umatnya.
- Penjelas, yang menjelaskan ajaran -ajaran islam itu kepada umatnya.
 
Kalau kita lihat penjelasan Nabi kepada umat islam bentuknya banyak sekali. Dan bagaimana kita meneladani Nabi Muhammad juga bermacam- 
macam. 
 
Kalau kita mengikuti theori yang ditulis oleh Imam Al Qarrafi dalam kitabnya Al Quruf meneladani Nabi Muhammad itu dibagi menjadi lima kategori. 
Dari lima itu ada yang wajib kita ikuti, ada yang tidak boleh kita ikuti, ada yang mubah untuk kita ikuti.
 
Pertama, Nabi Muhammad dalam kapasitasnya sebagai Rasul.
 
Maka semua yang beliau sampaikan itu mengikat kita semua. Dan kita harus mengikuti apa yang beliau jelaskan. Ini yang berhubungan dengan masalah akidah, masalah Meta fisika dan masalah ibadah mahdoh. Disini kita tidak boleh merekayasa dan tidak boleh menetapkan sendiri. Kita terikat dengan apa yang ada dalam Al Qur'an dan penjelasan-penjelasan dari Rasulullah SAW. 
 
Kedua, Nabi Muhammad dalam kapasitasnya sebagai Mufti.
 
Artinya beliau yang diberi wewenang untuk menjelaskan agama islam,  yaitu Al Qur'an. Kalau Rasulullah sudah menjelaskan , maka penjelasan beliau pasti benar. Tetapi kita sebagai umatnya tetap ada ruang untuk pengembangan terhadap penjelasan- penjelasan Rasulullah itu. 
Salah satu penjelasan Nabi yang memungkinkan untuk dikembangkan adalah penjelasan beliau yang oleh para ulama disebut sebagai Tamsil. 
 
Tamsil itu artinya Nabi Muhammad mengambil kasus-kasus yang terjadi di masyarakat untuk menjelaskan Al Qur'an. 
 
Contoh-contoh Tamsil :
 
1. Penjelasan siapa "al- maghdhuubi" dalam ayat terakhir Surat Al Fatihah
 
 غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآ لِّيْنَ
 
ghoiril-maghdhuubi 'alaihim wa ladh-dhooolliin
 
".bukan mereka yang dimurkai, dan bukan mereka yang sesat." (QS. Al-Fatihah 7)
 
Rasulullah menjelaskan "al-maghdhuubi" adalah Orang Yahudi.
Pertanyaannya , apakah yang dimurkai oleh Allah adalah orang-orang Yahudi.? Para ulama menjawab : Tidak.
Orang Yahudi itu adalah contoh kongkrit masyarakat yang ada pada masa Nabi Muhammad yang dimurkai oleh Allah SWT.
 
Mereka dimurkai bukan karena etnisnya,bukan karena kebangsaannya tetapi karena perilakunya. Sehingga dari situ ulama menjelaskan bahwa yang dimurkai Allah adalah semua orang yang berperilaku seperti perilakunya orang-orang Yahudi pada masa turunnya Al Qur'an. 
 
Apa saja perilaku orang Yahudi pada waktu itu sehingga mereka dimurkai ?
Untuk itu kita bisa mencari di dalam Al Qur'an.
 
Orang Yahudi menolak kenabian Nabi Muhammad dan menolak ajaran islam.
Penolakan itu bukan karena mereka tidak tahu, tetapi justru karena mereka tahu. Karena ajaran islam berseberangan dengan kepentingan- kepentingan mereka. Baik itu kepentingan agama, kepentingan politik, kepentingan sosial, kepentingan ekonomi dan sebagainya. 
 
Kalau ini kita bawa ke masa kita sekarang,  maka kalau ada orang- orang yang mempunyai perilaku yang seperti itu,  yaitu menolak kebenaran karena kebenaran tidak sejalan dengan kepentingan mereka, maka mereka bisa disebut Yahudi. 
 
 
2. Firman Allah dalam Al Qur'an agar bersiap menghadapi musuh. 
 
وَاَ عِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ 
 
wa a'idduu lahum mastatho'tum ming quwwatiw 
 
"Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki" (QS. Al-Anfal 60)
 
Rasul menjelaskan kata "quwwatiw" itu dengan "ar romyu" (memanah). Tentu saja senjata Panah bukan kemudian berlaku untuk selamanya. Tapi ini adalah contoh kongkrit jenis senjata yang efektif untuk mengalahkan lawan pada masa itu. Untuk masa sekarang kita mesti mengikuti teknologi persenjataan modern sesuai perkembangan zaman. Kalau tidak mesti kita akan dikalahkan oleh bangsa-bangsa yang lain. 
Artinya Nabi menjelaskan Al Qur'an tetapi kita tetap diberi wewenang untuk mengembangkan.
 
 
3. Perintah membayar zakat.
 
وَاَ قِيْمُواالصَّلٰوةَ وَاٰ تُواالزَّكٰوةَ وَا رْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ
 
wa aqiimush-sholaata wa aatuz-zakaata warka'uu ma'ar-rooki'iin
 
"Dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk." (QS. Al-Baqarah 43)
 
Zakat belum ada rinciannya di dalam Al Qur'an. Kita kalau mengumpulkan hadits-hadits berkaitan dengan zakat, maka jenis benda yang dizakati itu jumlahnya ada 8. 
 
Apakah zakat hanya terbatas pada 8 macam harta? Ulama menjawab : Tidak.
 
Delapan itu adalah contoh kongkrit jenis-jenis harta benda yang sudah ada pada masa Rasul. Perkembangan dari masa Rasul sampai saat ini terjadi perkembangan banyak sekali jenis-jenis harta kekayaan.
Sekarang ada Zakat Profesi, ada Zakat usaha Kost. Sekarang ada orang yang bergerak dibidang Peternakan, bidang Perikanan. Ini dulu pada zaman Nabi belum ada. Disini kita diberi wewenang untuk mengembangkan penjelasan- penjelasan Rasul tadi. 
 
 
Ketiga, Rasulullah sebagai hakim
 
Kalau melerai pertikaian beliau mendengarkan alibi kedua belah pihak. Setelah itu beliau pertimbangkan siapa yang alasan-alasannya paling kuat. Maka kemudian merekalah yang dimenangkan dalam persengketaan itu. Disini kita juga harus mencontoh Nabi di dalam melerai pertikaian yang terjadi di dalam masyarakat. 
 
Kita harus mendengarkan alibi kedua belah pihak, kemudian kita bisa memutuskan siapa yang alasannya lebih kuat dibanding dengan yang lain.
Tidak boleh memutus perkara hanya karena kita dekat dengan orang itu, atau orang itu satu suku dengan kita, atau satu organisasi dengan kita, walaupun salah dia kemudian kita menangkan di dalam perkara itu. 
 
 
Keempat, sebagai Pemimpin Arab 
 
Petunjuk -petunjuk beliau kepada masyarakat yang dipimpin pasti sangat tepat dan sangat sesuai dengan kondisi masyarakat yang ada pada masa itu. Tetapi untuk orang- orang yang jauh masa hidupnya dari masa Nabi,  atau secara geografis tidak sama dengan Nabi , maka yang harus dicontoh dari Nabi bukan apa yang dilakukan Nabi secara persis. Yang harus diambil dari Nabi adalah Semangatnya, pesan-pesan moral yang dilakukan oleh Rasulullah.
 
Imam Al Qarrafi memberi contoh Pakaian. Nabi Muhammad pakaiannya gamis. Orang-orang Musyrik juga pakaiannya gamis karena itu pakaian Arab. 
 
Kita yang di Indonesia tidak harus memakai gamis untuk meniru Nabi karena menurut Al Qur'an fungsi pakaian itu empat :
- Menutup aurat
- Melindungi badan dari panas dan dingin.
- Sebagai hiasan sehingga orang berpakaian kelihatan indah dan cantik. 
- Sebagai simbol identitas.
 
Jadi kalau pakaian sudah memiliki peran-peran itu, maka itu yang disebut dengan pakaian islami.  Label islami tidak harus persis dengan apa yang dipakai oleh Rasulullah SAW. 
 
 
Kelima, Nabi Muhammad sebagai pribadi
 
Sebagai pribadi ini dibagi menjadi dua:
 
1. Pribadi yang ada hubungannya dengan tugas kerasulan.
 
Maka disini kita tidak boleh ikut atau kalau misalnya ikut hukumnya hanya sunah. Seperti :
- Nabi wajib shalat Tahajud,  kita hanya wajib Shalat Lima Waktu.
- Nabi boleh menikah lebih dari empat dalam satu waktu. Umatnya hanya boleh menikah poligami maksimal empat kalau mau. 
 
2. Pribadi yang tidak ada hubungan dengan kerasulan.
 
Disini menyontoh Nabi sifatnya mana- suka. Misalnya :
- Nabi mengkonsumsi jenis-jenis makanan dan minuman. Kita mau ikut Nabi silahkan, tidak juga tidak apa-apa. 
- Nabi memelihara jenggot dan agak memanjangkan rambutnya. 
Disini orang mau mengikuti Nabi sifatnya Maktsurat,  tidak mengikat. 
Tapi menurut Imam Al Qarrafi kalau kita mengikuti Nabi dalam hal -hal seperti ini dengan niat itiba' Nabi,  in syaa Allah mendapatkan pahala dari Allah SWT. 
 
 
2. Kharakteristik Insaniah
 
Maksudnya ajaran-ajaran islam sesuai dengan fitrah manusia. Tidak ada ajaran-ajaran islam yang berseberangan dengan fitrah manusia.
 
Misalnya :
 
- Kecenderungan syahwat manusia,  laki-laki kepada Perempuan dan sebaliknya. Kecenderungan sex ada pada semua manusia. 
Disini Al Qur'an tidak memberangusnya tetapi Al Qur'an hanya sebatas mengatur supaya pelampiasannya mengikuti tuntunan-tuntunan syariah. Dalam hal ini islam mewajibkan adanya pernikahan yang sah antara suami dan istri untuk bolehnya mereka melakukan hubungan intim antara keduanya.
 
- Kecintaan kepada harta benda adalah naluri manusia. Islam hanya mengatur bagaimana cara perolehannya kemudian bagaimana cara penggunaannya,  tasaruf terhadap harta benda yang sudah didapat oleh manusia.
 
 
3. Kharakteristik Waqi’iyyah -  (Realistis)
 
Realistis sesuai dengan tempat,  waktu dan situasi.
 
Menurut Muhammad Abduh seorang mufasir dari Mesir,  dia membagi ajaran islam menjadi dua.
 
1. Ajaran islam yang sifatnya Rinci.
 
Tidak boleh dimasuki oleh pemikiran- pemikiran manusia. Ini berkaitan dengan masalah akidah,  masalah Meta fisika dan berkaitan dengan masalah ibadah mahdoh. 
 
2. Ajaran yang sifatnya Global.
 
Yang penjelasannya mengikuti perkembangan zaman, mengikuti perkembangan pemikiran manusia dan perkembangan sosial kemasyarakatan. Maka disitulah diperlukan adanya nasehat dari para ulama untuk membuat rincian terhadap ajaran-ajaran islam yang sifatnya masih global. 
 
Ulama lain membuat pemilahan dengan istilah
 
 1. Tsawabit
 
Ajaran islam yang tetap tidak berubah sepanjang zaman dari masa ke masa. Dari masa Rasul sampai Hari Kiamat. Ini sebetulnya sama dengan kategori yang dibuat oleh Muhammad Abduh tadi. 
Contohnya seperti ibadah-ibadah mahdoh. Haji tidak akan berubah sepanjang masa.Tempatnya tetap di Arab, tak bisa digeser ke tempat lain. Tata caranya seperti yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah.
 
2. Muthagoyyirat
 
Ajaran-ajaran islam yang berpotensi berubah. Berubah bisa karena perubahan zaman, karena perubahan struktur sosial masyarakat,  karena perubahan waktu dan lain sebagainya.
 
Seorang pakar islam klasik,  Ibnul Qayyim menulis dalam kitabnya Ilām al Muwaqqi‘in an Rabbi al-
‘Ālamin
 
Perubahan hukum dapat terjadi karena empat hal :
- karena perubahan zaman
- karena perbedaan tempat
- karena perbedaan kultur 
- karena perbedaan motivasi.
 
Kalau itu semua ada maka hukum- hukum bisa mengalami perubahan. 
Kita mengetahui banyak sekali hukum- hukum agama yang berkaitan dengan masalah Sosial, Ekonomi, Politik, Kebudayaan yang berubah karena perubahan zaman, karena perbedaan tempat, karena perbedaan kultur dan juga karena perbedaan motivasi. 
Perubahan adalah satu keniscayaan yang tidak bisa kita halang-halangi. 
 
Kalau mau ambil contoh banyak sekali di masyarakat kita. 
 
Indonesia termasuk negara islam yang paling produktif dalam merumuskan ajaran- ajaran islam yang mengalami perkembangan zaman. Termasuk masalah yang sensitif,  yaitu masalah waris. 
 
Hukum Masalah Waris
Kalau waris pembagian 1:2 antara Perempuan dan Laki-laki belum bisa diterima,  pembagiannya diinginkan menjadi 1:1 , tetapi dalam salah satu aspeknya sudah ada yang mengalami perubahan. Di Indonesia dirumuskan adanya Waris Pengganti.
 
Kalau ada orang tua meninggal,  tidak punya keturunan maka menurut ketentuan syariat dalam hadits penerima warisan adalah saudara laki-laki saja. 
 
Di Indonesia ada rukshah baru,  dalam Kompilasi Hukum Waris,  warisan itu nanti diterima oleh semua saudaranya, baik laki-laki maupun perempuan semua dapat, dengan perbandingan 1:2. 
 
Negara yang lain belum ada yang punya ketetapan hukum seperti Itu.
Ini konteks keIndonesiaan. 
 
 
4. Kharakteristik Washatiyah (Moderat)
 
Menjadi orang islam juga harus menjadi moderat, di dalam sikap beragama tidak ekstrim menyangkut berbagai persoalan. Terutama kalau menyangkut masalah Sosial dan Kebudayaan. Kita tidak boleh mengatakan pendapat kita sendiri yang paling benar, apalagi itu menyangkut wilayah ijtihadiah. 
 
 
5. Kharakteristik Al-Wudhuh (Jelas,  Logis)
 
Islam memperkenalkan ajarannya ada yang Rasional,  ada yang Supra Rasional. Supra Rasional berkaitan dengan masalah-masalah alam Ghoib,  masalah Meta fisika. Disini kita tidak boleh merasionalkan hal-hal yang sifatnya Meta fisika. 
 
Alam Ghoib tidak boleh dikiaskan dengan alam kasat mata karena memang akal pikiran manusia tidak akan bisa menjangkau kesana. 
Disini kita sikapnya hanya menerima sebatas informasi yang disampaikan oleh Al Qur'an kepada kita dan juga oleh Nabi Muhammad kepada kita.
 
 
6. Kharakteristik Penahapan
 
Ada penahapan di dalam penetapan hukum -hukum agama. Ini penting untuk kita yang hidup di masa modern di dalam berdakwah.
 
Salah satu contohnya adalah pengharaman khamr. Disitu kita melihat ada tiga ayat yang berbicara tentang khamr.
 
Ayat pertama :
Hanya menginformasikan bahwa khamr itu ada manfaatnya,  tapi lebih banyak mudhorotnya. Jadi belum diharamkan secara tegas.
 
Ayat yang kedua :
Membatasi pengkonsumsian khamr. Kalau masih mau mengkonsumsi khamr pada waktu-waktu tertentu saja. Jangan dekat-dekat waktu shalat.
 
Ayat yang ketiga :
Baru setelah masyarakat siap, ditetapkan pengharaman khamr. 
 
Dalam berdakwah kita harus "empan papan", audience kita siapa? Jangan sampai semua audience disamaratakan. Nanti akan terjadi persoalan pada mereka.
 
 
7. Kharakteristik Jumlah Tugas Sedikit
 
Beban keagamaan yang dibebankan pada kita jumlahnya hanya sedikit.
Shalat hanya lima kali sehari.
Haji kewajibannya hanya sekali seumur hidup.
Zakat yang harus kita bayarkan juga sedikit.
Ajaran-ajaran islam yang jumlahnya sedikit ini jangan berhenti pada formalitasnya. Kita harus menangkap makna dibalik formalitas.
 
Puasa yang kita lakukan sekarang juga hanya sedikit. Hanya satu bulan dari dua belas bulan. 
Tapi kita jangan berhenti hanya melakukan formalitasnya saja.
Kita harus dapat menangkap makna dibalik kewajiban Puasa Ramadhan. 
 
Diantara makna yang ada dibalik Puasa adalah latihan menghayati kehadiran Allah dalam kehidupan kita. Sehingga kalau perasaan kehadiran Allah ada pada kita setiap saat,  akan menjadi pengawasan melekat pada kita semua. Sehingga kita tidak akan berani untuk melakukan pelanggaran -pelanggaran apapun. Karena itu akan membawa kejatuhan moral dan spiritual kita. 
 
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
Shared Post:
Arsip
DAKWAH ROMADHAN di saat COVID-19 Terbaru
Berita Terbaru