'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Syiar
Home » Syiar » DAKWAH ROMADHAN di saat COVID-19 » BERINTERAKSI DENGAN AL QUR'AN DAN HADITS
BERINTERAKSI DENGAN AL QUR'AN DAN HADITS
30 April 2020 10:28 WIB | dibaca 639
oleh: lppa kota semarang
KAJIAN MUHAMMADIYAH  BANYUMANIK ON LINE
Oleh : Dr.H. Ahmad Hasan Asy'ari MA
Tgl : 6 Ramadhan 1441/ 29 April 2020
 
 
Pendahuluan
 
Masih banyak diantara kita yang "mis- understanding" terhadap istilah "ruju' ilal Qur'an wa sunah" , dalam bahasa kita Berinteraksi Dengan Al Qur'an dan Hadits. Karena kenyataan masyarakat sering tidak dapat membedakan antara : Al Qur'an,  Terjemah atau Tafsir?
 
Sebagai contoh kalimat berbunyi :
"Sungguh dalam diri Nabi Muhammad ada uswah hasanah".
Apakah kalimat tersebut merupakan Al Qur'an, Terjemah, Tafsir, Kata Mutiara atau yang lain ? 
 
Banyak yang mengatakan kalimat itu Al Qur'an. Disinilah terjadinya kesalahan, karena seluruh Al Qur'an berbahasa Arab sedangkan kalimat di atas berbahasa Indonesia. Terjemah yang munculpun bisa macam-macam. 
 
Kalimat di atas bisa jadi bukan Terjemah, karena menyebutkan nama Muhammad, sementara dalam kalimat asli bahasa Arab tak ada kata-kata Muhammad. Maka kata Muhammad, katakan itu spirit Al Qur'an adalah bukan Terjemahnya tapi Tafsir karena yang dimaksud disana adalah Nabi Muhammad. 
 
Ini yang perlu kita ketahui bahwa kita sering rancu,  mana Al Qur'an nya, mana Terjemahnya, mana Tafsirnya. 
Demikian pula dengan hadits Nabi.
Sama dengan Sunah , kita sering mendefinisikan dengan Hadits, Terjemahnya dan Penjelasan. 
 
"Bersih bagian dari Iman".
 
Jelas bukan Hadits karena Nabi tidak pernah memakai bahasa Indonesia. 
Muncul kalimat yang populer :
 
النظافة من االيمان 
 
Apakah ini hadits? 
Ternyata untuk bisa melakukan identifikasi apakah ini hadits ada sebuah cara , dan tidak serta merta bisa mengiyakan bahwa itu hadits.
 
Hadits Nabi adalah sebuah reportase, hasil amatan, hasil sima'an para sahabat terhadap apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Sehingga yang disima' oleh para sahabat terekam dalam pikiran dan amaliah mereka. Terlepas dari hasil rekaman sima'an para sahabat ini boleh jadi berbeda cara tangkapan dengan sahabat lain. Sehingga ketika generasi berikutnya tanya tentang lakunya Nabi, penjelasan sahabat satu dengan lainnya terjadi perbedaan.
 
Muncullah sampai pada pembuku hadits seperti Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Malik dan sebagainya. Mungkin substansinya satu tetapi redaksinya bermacam-macam. Bahkan tak jarang kita temui tidak hanya redaksi, ketika dibaca oleh orang sekarang sepertinya substansinya berbeda.
 
النظافة من االيمان
(Bersih bagian dari Iman).
 
Kalau dilacak dalam hadits-hadits Nabi sulit ditemukan. Bahkan kalau saya bilang tidak akan ditemukan. Tetapi bukan berarti spirit "Bersih bagian dari Iman" tidak ada dalam hadits Nabi
Kita akan menjumpai dalam Sunan Ibnu Majah bahwa Rasulullah pernah menyatakan : 
الطهور شطر االيمان
 
"Suci separo daripada iman"
 
Artinya bahwa nilai-nilai kebersihan spiritnya ada pada Sunah Nabi SAW, tetapi belum tentu itu diucapkan oleh Nabi SAW. Yang tahu ucapan ini adalah para Sahabat. Kemudian ditularkan kepada generasi yang berikutnya. Ada yang redaksinya apa adanya, kata perkata, tetapi ada juga yang secara makna.
 
Salah satu contoh didalam hadits Nabi adalah Rasulullah memerintahkan untuk membunuh Al-auzagh. 
 
امر رسول هللا صلى هللا عليه وسلم بقتل االوزاغ
 
Al-auzagh ini adalah bentuk jamak dari Wazaghah. Wazaghah ini kalau kita buka kamus bahasa Arab-Indonesia yang kita dapati adalah cicak. 
 
Lalu muncullah pengamalan di lingkungan masyarakat, usai mengaji membunuhi cicak dengan karet. Dengan harapan bisa mengikuti Sunah Nabi. 
 
Akan tetapi kalau kita kembali pada kata Wazaghah, apakah betul cicak seperti pengetahuan kita yang kita kenal?  Setelah kita belajar dari ulama masa awal seperti Imam Nawawi ketika menjelaskan hadits ini, kata Wazaghah itu ternyata dimaknai al-hasyarat al-mu’dziyat (serangga yang merusak atau mengganggu).  
 
Dengan membaca penjelasan ini kita jadi ragu-ragu. Yang diperintah untuk dibunuh apa benar cicak seperti yang kita kenal ataukah berbeda? Ini timbul pergulatan pemikiran.
 
Bahasa itu milik daerahnya, sehingga ketika bahasa itu digunakan oleh daerah yang berbeda bisa memiliki kandungan makna yang berbeda. 
 
Saya dulu pindah dari Jawa Timur ke Jawa Tengah. Sama-sama kata "Undang" konotasinya sudah berbeda.
Di Jawa Timur kata "Undang" identik dengan kata "Kondangan" (Undangan Resepsi). Sementara di Jawa Tengah kata "Undang" artinya hanya "Dipanggil".
 
Suatu hari ketika saya baru pindah dari Jawa Timur ke Jawa Tengah,  ibu kost melalui anaknya titip pesan kepada saya : "Mas Hasan di-Undang ibu".
Pada saat itu yang ada dalam benak saya gembira, pasti bisa makan- makan enak. Maka saya mengganti pakaian. Memakai Peci dan baju Koko.
 
Setelah datang menemui ibu Kost,  apa yang diharapkan tadi hilang semuanya.
Kemudian saya bertanya : "Ada apa bu? ". Dan ibu Kost menjawab :
"Ini mas,  Lemari kita geser bareng- bareng".
 
Harapan hilang karena memakai paradigma bahasa Jawa Timur untuk memahami kata yang sama dalam bahasa orang Jawa Tengah. 
Oleh karena itu penting bagi kita untuk memahami duduk perkara dalam istilah tadi.
 
 
Berdalil dan Berijtihad
 
Dalam kehidupan bermasyarakat kita sering mendengar kata Berdalil dan Berijtihat.
 
Berdalil itu sangat sederhana : Melakukan sesuatu dan mencari dasar penguatnya. 
Berijtihad itu mencari dasar, kemudian dipahami keseluruhan dari dasar itu dengan seluruh kemampuan, baru memutuskan apa yang ada dalam dasar-dasar (dalil) tersebut baru kemudian dilakukan.
 
Taklid dan Itiba'
 
Kalau di atas adalah pada level Mujtahid atau para ahli yang mau memberi fatwa. 
Ada tradisi di masyarakat ketika melakukan fatwa itu timbul istilah dengan cara Taklid atau Itiba'.
 
Taklid artinya menggantung. Maka stressingnya pada menggantungkan diri (opo jare Kiyai).
 
Itiba' tekanannya pada kesadaran akan dasar kebenaran yang dibenarkan. 
Sehingga ibarat ketika kita mengikuti Kiyai,  tiba-tiba Sang Kiyai mencebur sungai untuk berenang, kita tidak semata-mata ikut mencebur sungai.
Kita bertanya pada Kiyai,  
"Kenapa berenang Kiyai? " - "Saya mencari kesegaran", jawab Kiyai. 
 
Maka kita tak perlu ikut berenang, kita cukup berteduh dibawah Pohon sudah mendapatkan kesegaran. Ini namanya Itiba'. 
 
Sama-sama mencari Kesegaran,  yang satu mencebur ke Sungai yang lain berteduh di Pohon. 
Sunahnya mencebur ke air,  tapi kita lakukan berteduh dibawah Pohon, karena belum tentu dapat berenang. 
 
Bermadzab dan Bermanhaj
 
Menurut statemen Imam As Syafi'i, beliau berkata :
 
إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي 
 
“Kalau ada hadits shahih, maka itulah madzabku".
 
Pernyataan itu sendiri adalah Manhajnya Imam As Syafi'i. 
Yang namanya bermadzab Syafi'i adalah mengikuti pandangannya Imam As Syafi'i. 
 
Ketika Kiyai mencari kesegaran hanya dengan cara berenang,  maka ketika ada yang mengikuti berenang,  itulah yang namanya bermadzab.
Bermanhaj adalah keputusan Kiyai tadi untuk mencari kesegaran dengan cara berenang. Sementara orang lain boleh mencari kesegaran dengan memakai cara yang berbeda , sehingga produknya bisa berbeda. 
 
 
Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah 
 
Kembali kepada Al Qur'an dan Sunnah bisa berlevel-level :
 
• Melalui mazhab: 
karena tidak bisa berinteraksi langsung dengan Al Qur'an. 
Belajar Al Qur'an dari terjemahnya. Tafsirnya dia mengikuti yang lain. Maka dia hanya mengikuti pandangan yang sudah ada. Ini seperti yang dipakai oleh Nahdhiyin. 
 
• Langsung (tidak terikat mazhab): Wahabi 
 
• Melalui cara pandangan ulama salaf as-salih : Salafi
 
• Kembali ke Al Qur'an dengan Tajdidah (Pembaruan-pembaruan)  : Muhammadiyah
 
Cara berinteraksi kepada Al Qur'an dan Sunah inilah yang melahirkan keragaman perbedaan tersebut.
Itu secara umum,  bagaimana kita berinteraksi dengan Al Qur'an dan Sunah. 
 
 
Metode Tematik Memahami Hadits Nabi
 
Pertanyaannya :
• Apa itu Hadis Nabi SAW?
• Mengapa Hadis Nabi SAW perlu dipelajari?
• Bagaimana cara mengenali Hadis Nabi SAW?
• Dimanakah kita mendapati Hadis Nabi SAW?
• Mengapa ada yang Sahih dan yang Dhaif?
• Bagaimana Memahaminya?
• Bagaimana Mengimplementasikannya
 
Kita tak akan membahas ini semua karena cukup banyak. Tetapi dasar- dasarnya harus dikenali supaya dialog tentang hadits bisa berkesinambungan. 
 
Apakah Hadits itu?
 
Para ulama mendefinisikan hadits itu sebagai : 
aqwal (pernyataan-pernyataan).
af’al (perbuatan -perbuatan).
taqrirat ataupun qarar atau Pembiaran yang menunjukkan persetujuan Nabi yang semuanya disandarkan kepada
Nabi Muhammad SAW.
 
Kalau ada Sahabat melakukan Perbuatan A, B, C dan Nabi diam saja tidak menegur bahwa itu salah,  itu menunjukkan Qarar(Penetapan).
Mungkin kalau bahasa kita sekarang : "Yo ora apa-apa".
 
Aspek Qarar ini paling banyak tidak dibahas oleh ulama pengkaji Hadits. Mereka lebih senang membahas apa yang dilakukan Nabi,  apa yang diucapkan Nabi.
Namun seringkali ini tidak menjadi Sunah ataupun Hadits padahal banyak terjadi. 
 
Contohnya,  selama ini kalau ingin mencontoh sunah berpakaian ala Nabi yang dicari adalah apa yang dilakukan oleh Nabi. Tetapi jarang sekali kita memperhatikan pakaian yang dipakai oleh Sahabat -sahabat disekitarnya tetapi ada Pembiaran oleh Nabi.
 
Ibnu Umar paling suka memakai baju warna abu-abu. Bahkan dalam Sirrah, Ibnu Umar berpesan kalau meninggal agar diberi kafan dengan warna tertentu. Sekalipun dalam hadits pernyataan Nabi, Nabi lebih suka warna putih. Sebenarnya Nabi tidak menghalangi sahabat menyukai warna abu -abu. Ada yang menyukai warna merah dan sebagainya. 
 
Tetapi produknya,  kesannya hanya yang dipakai Nabi yang menjadi Sunah Nabi, sementara yang tidak dianggap bukan Sunah. Padahal Qarar (Pembiaran Nabi) terhadap perilaku sahabat di sekitarnya adalah bagian dari Sunah Nabi. 
 
Hakekat Hadis Nabi SAW: 
Reportase sahabat atas lakunya Nabi SAW yang disampaikan ke (atau diminta oleh) generasi berikutnya (sedemikian
rupa) hingga dibukukan oleh para Mukharrij (pembuku hadis)
 
Sekilas tentang Mukharrij
(para pembuku hadis dengan sanad yang sampai
kepadanya)
 
Yang terkenal adalah :
الكت ٍ الستة
Kutubus sitah atau Kitab yang enam yang sering disebut dengan Umahatul Kitab (induknya kitab-kitab Hadits) yang ditulis oleh :
• Al-Bukhari (w. 256 H.)
• Muslim (w. 261 H.)
• Abu Dawud (w. 275 H.)
• Al-Turmudzi (w. 279 H.)
• Al-Nasa’i (w. 303 H.)
• Ibn Majah (w. 279 H.)
 
Kita dapat membayangkan betapa perjalanan Imam Bukhori
untuk mendapatkan satu hadits. Beliau yang berasal dari Bukhoro (Uzbekistan). Dulu jalan darat dan belum ada Pesawat. Beliau amat jauh berjalan untuk penelitian perawi hadits dari para tabi’in, keturunan sahabat Nabi SAW.
 
Sedemikian rupa spirit Para ulama untuk memburu hadits. Untuk menghimpun pengetahuan dari Nabi SAW. 
 
 
Mengapa Hadis Nabi SAW perlu dipelajari?
 
• Allah memerintahkan kita di dalam al-Qur’an: 
 
1. Mengimani Rasul-Nya
 
Allah SWT berfirman:
 
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اٰمِنُوْا بِا للّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَا لْكِتٰبِ الَّذِيْ نَزَّلَ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَا لْكِتٰبِ الَّذِيْۤ اَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِا للّٰهِ وَمَلٰٓئِكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًاۢ بَعِيْدًا
 
"Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab Al-Qur'an yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Allah, malaikat- malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul- rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh." (QS. An-Nisa' 136)
 
 
 2. Mematuhi Rasul-Nya
 
Allah SWT berfirman:
 
قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَا لرَّسُوْلَ ۚ فَاِ نْ تَوَلَّوْا فَاِ نَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْكٰفِرِيْنَ
 
"Katakanlah (Muhammad), Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir." (QS. Ali 'Imran 32)
 
Allah SWT berfirman:
 
مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَا عَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗ 
 
"Barang siapa menaati Rasul (Muhammad) maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling dari ketaatan itu maka ketahuilah Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka." (QS. An-Nisa' 80)
 
 
3. Mengambil apa yang disajikan (ucapan dan tindakan)
 
Allah SWT berfirman:
 
 ۗ وَمَاۤ اٰتٰٮكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰٮكُمْ عَنْهُ فَا نْتَهُوْا ۚ 
 
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr 7)
 
 
4. Mengambil apa yang diteladankan (ditampilkan, bukan semata-mata fisik
tetapi moral)
 
Allah SWT berfirman:
 
لَقَدْ كَا نَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَا نَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَا لْيَوْمَ الْاٰ خِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا ۗ 
 
"Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab 21)
 
Buat apa mengikuti jejak seseorang tapi dalam hal akhlak tidak diikuti. Itu baru meniru belum meneladani.
 
Orang tua saya berpesan agar saya bersemangat seperti bapak saya. Bapak saya Petani, tapi tidak berarti saya ikut mencangkul. Pesan untuk bersemangat bukan pada Pekerjaan, tapi pada Spirit. Karena pada kesempatan lain dikatakan : "Kamu tugasnya belajar". Kata kunci "semangat" harus sama. Itu yang disebut uswah. 
 
 
5. Fungsi Nabi SAW adalah menjelaskan al-Qur’an (bayan ma’na dan bayan
‘amal)
 
Allah SWT berfirman:
 
وَاَ نْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّا سِ 
 
"Dan Kami turunkan Ad-Zikr (Al-Qur'an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia ..." (QS. An-Nahl 44)
 
 
Kesimpulannya
 
Ada sesuatu pada diri Nabi SAW yang patut diambil
umat sebagai konsekwensi ketaatan kita kepada Allah sebagaimana termuat dalam ayat:
 
مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَا عَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗ 
 
"Barang siapa menaati Rasul (Muhammad) maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling dari ketaatan itu maka ketahuilah Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka." (QS. An-Nisa' 80)
 
Ketika kita menaati Rasul sebenarnya kita sedang menaati Allah SWT. 
 
Ada banyak contoh Fungsi Nabi sebagai penjelas Al Qur'an :
 
1. Diambilkan dari ayat yang lainnya.
Maka muncul dalam ilmu Tafsir, menafsirkan Al Qur'an dengan Al Qur'an itu sendiri. 
 
2. Dijelaskan dengan ucapan.
Contoh ketika menjelaskan Al Kautsar. Rasul menjelaskan sebagai Sungai di Surga. Kalimat itu tidak ada di dalam Al Qur'an, tetapi itu penjelasan Nabi. 
 
3. Dijelaskan dengan contoh amalan (ibadah)
Soal shalat nabi hanya menjelaskan dengan kode, shalatlah sebagaimana kamu melihat aku shalat. Penjelasan tentang gerakan shalat diceritakan oleh Sahabat. 
 
4. Dijelaskan dengan laku keteladanan (akhlak)
 
Contohnya adalah hadits Rasulullah
 
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
 
“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku” (HR At-Thirmidzi )
 
Kita tidak bertanya bagaimana saja rinciannya. Tinggal memotret bagaimana perilaku Nabi terhadap keluarganya. Berarti tinggal meneladani. 
 
 
Problema Memahami Al Qur'an tanpa Penjelasan Nabi
 
 
Allah SWT berfirman:
 
وَاَ قِيْمُواالصَّلٰوةَ وَاٰ تُواالزَّكٰوةَ وَا رْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ
 
"Dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk." (QS. Al-Baqarah 43)
 
• Shalat yang dimaksud ini apa (do’a atau gerakan), bagaimana caranya, kapan waktunya, berapa jumlah rakaatnya, siapa yang diwajibkan, dan berapa kali dalam seumur hidup dilaksanakan
 
• Zakat yang dimaksud ini apa, siapa yang wajib, harta apa saja yang wajib dizakati, berapa ukurannya serta syarat-syaratnya
 
• Ruku’ yang dimaksud seperti apa, caranya, berapa kali, di dalam shalat atau di luar shalat ? kenapa dalam ayat ini ada perintah shalat dan ada perintah Ruku'?
Disana pasti ada rahasia yang perlu dijelaskan.
 
Maka penting untuk memahami kata-kata bahasa Arab untuk memaknai Al Qur'an,  apalagi bila mau menjelaskan. 
 
 
Allah SWT berfirman:
 
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْۤا اِيْمَا نَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰٓئِكَ لَهُمُ الْاَ مْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ
 
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk."
(QS. Al-An'am 82)
 
• Mencampur iman dan zhalim yang dimaksudkan?
 Ini bisa timbul problem bila tidak dijelaskan. 
 
 
Ada Kesenjangan antara Nabi SAW dan Kita
 
• Nabi SAW
• Tinggal di Arab
• Abad 6-7 (571-632)
• Bahasa Arab
• Masyarakat Pedagang
• Daerah Tandus berbatu
• Budaya Arab
 
 
• Kita 
• Tinggal di Indonesia
• Abad 21 (2020)
• Bahasa Indonesia
• Masyarakat Agraris
• Daerah tropis subur
• Budaya nusantara
 
Maka menjadi penting bagi para ulama untuk menjembatani kesenjangan ini. 
 
Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum
Shared Post:
Arsip
DAKWAH ROMADHAN di saat COVID-19 Terbaru
Berita Terbaru