'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
PENDIDIKAN POLITIK PEREMPUAN
19 April 2017 19:03 WIB | dibaca 1121

 

 

Peserta dari 'Aisyiah Kota Semarang

 

Semarang, 19 April 2017

Bersamaan dengan Pilkada Jakarta putaran ke 2 tepatnya tanggal 19 April 2017, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Pemerintah Kota Semarang mengadakan Kegiatan Pendidikan Politik Perempuan kepada Fungsionaris Ormas / LSM yang bergabung dalam GOW (Gabungan Organisasi Wanita). Acara diselenggarakan di Ruang Lokakrida. Gedung Mr. Moch Ichsan Lantai VIII Jl Pemuda 148 Semarang.

  

Dr. Drs.Teguh YuwonoM. Pol. Admin sebagai narasumber

Dengan mengambil tema “Dengan semangat Kartini, Perempuan Siap Berperan Meningkatkan Pemahaman Pendidikan Politik Dalam Rangka Pembangunan Demokrasi Pancasiala”. Adapun narasumber adalah:

1.       AKBP Siti Rondjijah, S.Si.,M.KES

2.       Swasti Aswagati, S.Psi wakil ketua komisi A DPRD Kota Semarang

3.       Kartini / Ibu Kuncoro ( Ketua TP PKK Kota Semarang)

4.       Dr. Drs. Teguh Yuwono M.Pol. Admin (Doktor Ilmu Pemerintahan, Analisa Politik FIFIP UNDIP)

Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kota Semarang juga mendapat undangan untuk mengikuti undangan tersebut. PDA kota Semarang mengutus 6 anggota ‘Aisyiyah sebagai perwakilan. Dari pemaparan yang disampaikan oleh narasumber kami dapat menyimpulkan beberapa hal di bawah ini;

Mengapa perempuan harus ada dalam proses politik? Pertanyaan ini sering muncul dalam kehidupan sehari hari. Yang dimaksud dengan Politik adalah menata kehidupan masyarakat dengan baik, jadi hasil akhir dari politik adalah“kebaikan” sedangkan perempuan adalah juga warga negara dalam masyarakat. Jadi secara langsung dalam kehidupan sehari hari wanita itu juga berpolitik.

Beberapa kendala yang dihadapi perempuan dalam berpolitik adalah:

1.       Laki laki mendominasi arena politik yaitu dengan menerapkan “model maskulin”

2.       Peran ganda wanita sebagai pengurus keluarga

3.       Kurangnya dukungan politik untuk perempuan

4.       Adanya bias gender

5.       Lemahnya kemampuan sendiri dalam berpolitik

Berbicara tentang wanita berkiprah dalam politik sebetulnya bukan hal baru lagi. Kita ingat bahwa banyak pahlawan perempuan yang muncul pada saat jaman penjajahan. RA Kartini, Ttjut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, Tjut Meutia dan lain lain, yang mendobrak tradisi di masanya. Dan di jaman sekarang di era  reformasi bermunculan srikandi srikandi dalam Pemerintahan di negara NKRI. Begitu juga ada beberapa pekerjaan laki lakipun wanita tidak segan untuk mengambilnya.

Secara de jure yang ada dalam UU No 12 tahun  2003 tentang Pemilu, pasal 65 ayat (1) menetapkan tentang perwakilan perempuan sebesar 30% di lembaga legeslatif. Selain itu jumlah perempuan di Negara Kesatuan Republik Indonesia jumlahnya lebih besar dari jumlah laki laki. Jadi banyak kesempatan untuk memberdayakan kaum perempuan dan mengambil hati mereka.

Sekarang bagaimana mengatur strategi pencapaian kuota 30% perempuan dalam Parlemen?

1.       Paradigma kekuasaan harus dirubah dari “kekuasaan terhadap yang lain” menjadi “kekuasaan bersama yang lain

2.       Seleksi kandidat setiap partai politik kriterianya harus transparan dan adil gender.

3.       Partai  politik harus menerapkan kuota 30% kuota untuk perempuan dan meletakan kandidat perempuan di urutan atas.

4.       Mempersiapkan dan membuktikan diri sebagai perempuan yang kompeten dimata masyarakat dan terutama di mata keluarga

          serta mempersiapakan diri sebagai perempuan berkemajuan.

Demikian beberapa kesimpulan yang dapat kami rangkum semoga ada manfaat bagi kita semua.

 

[Indah lppa]

Shared Post: