'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
MERAWAT JENAZAH SEBAGAI BAGIAN BERKHIDMAT UNTUK UMMAT
14 Agustus 2022 15:00 WIB | dibaca 49

Merawat jenazah itu pekerjaan mudah, tapi tidak semua orang mau melakukannya. Demikian pernyataan Bu Nur Badriyah dalam rapat koordinasi (rakor) Lembaga Pelayanan Husnul Khatimah (LPHKh) dengan PDA Kota Semarang, PCA, dan tim perawat jenazah pada hari Ahad, 14 Agustus 2022/16 Muharram 1444 di kompleks masjid taqwa Roemani lt 5.

 

Pembukaan Rakor oleh Ibu Aminah Kurniasih Mewakili Ketua PDA Kota Semarang

 

Rakor dibuka dengan sambutan dari ketua PDA Kota Semarang yang diwakili oleh Ibu Aminah Kurniasih. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan terima kasih pada LPHKh sebagai lembaga andalan PDA yang telah memberi layanan pada masyarakat tidak hanya anggota Muhammadiyah/Aisyiyah, namun  juga masyarakat umum di luar organisasi Muhammadiyah. Ucapan teri kasih juga disampaikan kepada peserta rakor wakil dari cabang dengan harapan akan muncul para perawat jenazah baru yang siap melayani masyarakat melalui LPHKh atau secara mandiri.

Dalam sambutannya Bu Aminah juga menceritakan pengalaman merawat jenazah untuk pertama kalinya. Walaupun tidak ada rasa takut, saat beliau pulang merawat jenazah dan akan mandi,  bayangan jenazah berkafan  hadir tiba-tiba di hadapan beliau. Doa dan istighfar beliau lantunkan untuk mengusir bayangan itu. Pengalaman itu tidak menyurutkan tekad beliau menjadi seorang perawat jenazah. Beliau berpesan pada para peserta rakor agar terus belajar dan menguatkan hati untuk melayani masyarakat melalui kemampuan dan kemauan merawat jenazah

Acara dilanjutkan dengan paparan dari LPHKh yang diwakili oleh Bu Nur Badriyah. Beliau menjelaskan tentang macam-macam  layanan di LPHKh. Di antaranya adalah pendampingan pasien yang mengalami sakaratul maut, perawatan jenazah, penyelenggaraan pemakaman, ambulan, hingga tanah makam khusus muslim. 

Terpenuhinya pelayanan oleh LPHKh tidak lepas dari beberapa kemudahan yang diperoleh. Di antaranya tanah wakaf untuk pemakaman, dan bantuan mobil ambulan dari RS Roemani dan dr. Shafa Chasani. Pendamping pasien dan penyelenggaraan pemakaman pun tidak ada kendala karena kerjasama yang intens dengan Muhammmadiyah.

Kendala justru terjadi pada layanan perawatan jenazah. Dengan semakin baiknya pelayanan, masyarakat umum yang bukan anggota Husnul Khatimah pun banyak yang meminta bantuan. Bila ada anggota keluarga yang meninggal, mereka merasa lebih “mantep” dan “sreg” bila dirawat jenazahnya oleh LPHKh. Alasannya pun menarik, yaitu karena pelayanan oleh LPHKh sesuai tuntunan syari’ah.   Akibatnya pernah terjadi sehari ada beberapa orang yang meninggal dan tempatnya berjauhan walaupun masih seputar Semarang. Semuanya meminta pelayanan LPHKh. Pengurus pun kewalahan karena terbatasnya jumlah perawat jenazah di LPHKh.

Melihat fenomena tersebut, melalui rakor Bu Nur Badriyah secara khusus meminta para peserta untuk bersedia menjadi bagian dari LPHKh sebagai perawat jenazah. Ada beberapa peserta yang sudah berpengalaman merawat jenazah membagikan pengalamannya saat merawat jenazah. Semua berawal dari keterpaksaan, kemudian dipaksa keadaan, akhirnya menjadi biasa. Bahkan dengan sukarela dan senang hati melaksanakan tugas sebagai perawat jenazah. Contohnya adalah Ibu Nurmawati dari PCA Semarang Selatan. Beliau sebenarnya adalah seorang penakut. Kalau ta’ziyah selalu memilih waktu ketika jenazah sudah diberangkatkan. Beliau ketakutan melihat jenazah yang telah dibungkus kain kafan. Suatu ketika beliau diajak untuk menjadi asisten perawat jenazah karena ibu yang biasa mengasisteni berhalangan. Dengan terpaksa beliau ikut. Lain waktu, beliau diajak lagi. Suatu ketika ada permintaan merawat jenazah.  Perawat jenazah yang biasanya beliau bantu berhalangan, dengan segala keterbatasan ilmu dan hanya bermodal beberapa kali membantu, beliau memberanikan diri melayani perawatan jenazah. Eh, keterusan deh. Sampai sekarang beliau melakukan pelayanan tersebut dengan jargon “berkhidmat pada umat melalui perawatan jenazah sampai akhir hayat”

 

  

Peserta tekun mendengarkan materi dari para narasumber

 

Ada lagi pengalaman menarik yang disampaikan Bu Sri Wahyuni dari PCA Semarang Utara. Beliau menjadi perawat jenazah setelah kelompoknya menang dalam lomba perawatan jenazah. Dalam lomba tersebut, peran beliau adalah sebagai jenazah. Tentu saja saat itu beliau hanya diam saja dirawat oleh teman-temannya yang lain. Qadarullah, dalam lomba tersebut kelompoknya menang. Alhamdulillah, tentu saja. ternyata kemenangan itu berimbas pada kepercayaan masyarakat terhadap beliau. Suatu ketika ada tetangga yang meninggal dunia. beliau langsung dimintai pertolongan untuk merawat jenazah tetangganya tersebut. Reaksinya mula-mula tentu saja terkejut karena dalam lomba itu perannya sebagai jenazah. Saat beliau ceritakan hal itu, orang tak mau tahu. Tahunya beliau menang dalam lomba tersebut. Akhirnya, dengan segala keterpaksaan dan sedikit ilmu yang dimiliki, beliau berangkat juga. Karena pertama kali melakukannya, ada kesalahan yang beliau ingat saat mengafani jenazah, yaitu talinya ketinggalan. Namun kekeliruan itu segera bisa beliau perbaiki. Pada akhirnya, beliau sekarang menjadi perawat yang handal dan mencintai pekerjaan tersebut.

Satu lagi pengalaman menarik dari bu Rumasih (PCA Pedurungan). Beliau pernah merawat jenazah seseorang yang meninggal karena kanker payudara. Kankernya itu ternyata sudah begitu parah hingga payudaranya rusak, berlendir, berdarah, dan mengeluarkan bau busuk. Setelah dimandikan, payudara yang berdarah tadi ditutup dengan pampers dan jenazahnya beliau siram dengan air parutan jeruk purut. Seketika bau busuk berganti dengan harum bau jeruk wangi. Darahpun berhenti mengucur karena tertutup pampers.

Beberapa pengalaman dari ibu-ibu perawat jenazah diharapkan bisa memicu peserta rakor untuk ikut berjuang bersama dalam perawatan jenazah. Langkah awal memang tidak selalu mudah, namun bila sudah dilakukan, tidak ada hal yang sulit. Para peserta rakor bersedia menjadi perawat jenazah namun memang perlu pelatihan. Pelatihan itulah yang menjadi titik fokus rencana tindak lanjut rakor. Rencana tindak lanjut segera akan dilakukan. Peserta rakor diminta untuk menunggu kabar dari LPHKh.

Menjelang sore rakor diakhiri dengan doa penutup oleh Bu Nur Badriyah. Beliau berharap, ibu-ibu bersedia mengemban amanah melaksanakan fardhu kifayah yang merupakan hak si mayit dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Nurlaela, PCA Semtim

Shared Post: